PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kesehatan
jiwa merupakan bagian yang integral dari kesehatan. Kesehatan jiwa bukan
sekedar terbebas dari gangguan jiwa, akan tetapi merupakan suatu hal yang di
butuhkan oleh semua orang. Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia
serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagai mana
adanya. Serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
(Menkes, 2005).
Dengan
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perbedaan yang terjadi
setiap daerah, banyak menyebabkan perubahan dalam segi kehidupan manusia baik
fisik, mental dan sosial yang dapat membuat kemampuan manusia mengalami
keterbatasan diri dalam mencapai
kepuasan dan kesejahteraan hidup, sehingga sering menimbulkan tekanan atau
kesulitan dalam menghadapi masalah kehidupan. Hal ini sering menimbulkan
tekanan dan akan mengarah pada dampak negatif seperti timbulnya stress
atau kecemasan, bila kecemasan tidak segera diatasi atau ditangani akan
menyebabkan menurunnya kemampuan individu untuk berkonsentrasi dan berorientasi
pada realita.
Gangguan
orientasi realita adalah ketidakmampuan klien menilai dan berespon pada
realita. Klien tidak dapat membedakan rangsang internal dan eksternal, tidak
memberi respon secara akurat, sehingga tampak perilaku yang sukar dimengerti
dan mungkin menakutkan. Gangguan pada fungsi kognitif dan persepsi
mengakibatkan kemampuan menilai dan menilik terganggu. Gangguan fungsi emosi,
motorik dan sosial mengakibatkan kemampuan berespon terganggu yang tampak dari perilaku non
verbal (ekspresi muka, gerakan tubuh dan perilaku verbal) penampilan hubungan
sosial karena gangguan atau respon yang timbul disebut pula respon
neurobiologik.
Setiap
saat dapat terjadi 450 juta orang di seluruh dunia terkena dampak permasalahan
jiwa, syaraf maupun perilaku dan jumlahnya terus meningkat.
Pada studi terbaru WHO di 14 negara menunjukkan bahwa pada negara-negara berkembang, sekitar 76-85% kasus gangguan jiwa tergolong parah dan tidak dapat pengobatan apapun. Dari 150 juta populasi orang dewasa Indonesia, berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes), ada 1,74 juta orang mengalami gangguan mental emosional. Sedangkan 4 % dari jumlah tersebut terlambat berobat dan tidak tertangani akibat kurangnya layanan untuk penyakit kejiwaan ini. Krisis ekonomi dunia yang semakin berat mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di dunia, dan Indonesia khususnya kian meningkat, diperkirakan sekitar 50 juta atau 25% dari juta penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa.
Pada studi terbaru WHO di 14 negara menunjukkan bahwa pada negara-negara berkembang, sekitar 76-85% kasus gangguan jiwa tergolong parah dan tidak dapat pengobatan apapun. Dari 150 juta populasi orang dewasa Indonesia, berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes), ada 1,74 juta orang mengalami gangguan mental emosional. Sedangkan 4 % dari jumlah tersebut terlambat berobat dan tidak tertangani akibat kurangnya layanan untuk penyakit kejiwaan ini. Krisis ekonomi dunia yang semakin berat mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di dunia, dan Indonesia khususnya kian meningkat, diperkirakan sekitar 50 juta atau 25% dari juta penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa.
Gangguan
kejiwaan merupakan masalah klinis dan sosial yang harus diatasi karena sangat
meresahkan masyarakat baik dalam bentuk dampak penyimpangan perilaku maupun
semakin tingginya jumlah penderita gangguan jiwa. Penyakit
mental ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya.
Semakin tingginya persaingan dan tuntutan dalam memenuhi kebutuhan dapat
menyebabkan seseorang mengalami stress atau merasa tertekan. Jika seseorang
mengalami stress maka ia akan cenderung mengalami atau menunjukkan gejala
gangguan kejiwaan sehingga ia menjadi maladaptif terhadap lingkungan.
Gangguan
atau masalah kesehatan jiwa yang berupa proses pikir maupun gangguan sensori
persepsi yang sering adalah halusinasi. Halusinasi merupakan persepsi tanpa
adanya rangsangan apapun pada panca indera seseorang yang terjadi pada keadaan
sadar. Halusinasi merupakan satu gejala skizofrenia. Skizofrenia merupakan
kekacauan jiwa yang serius ditandai dengan kehilangan kontak pada kenyataan
(psikosis).
Halusinasi
adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal
(pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau
pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau rangsangan yang nyata. Sebagai
contoh klien mengatakan mendengar suara padahal tidak ada orang berbicara
(Kusumawati, 2010).
Sedangkan
dari data keterangan yang didapat di Rumah Sakit Duren Sawit Jakarta khususnya
di Ruang Berry dari 12 Desember sampai 16 Mei 2013 terdapat 238 kasus, terbagi:
gangguan sensori persepsi: halusinasi berjumlah 222 kasus atau 93,2%, isolasi
sosial: menarik diri sebanyak 171 kasus atau 71,8%, defisit perawatan diri
berjumlah 186 kasus atau 78,1%, perilaku kekerasan berjumlah 118 kasus atau 49.57%,
gangguan konsep diri: harga diri rendah 30 kasus atau 12,60%
Berdasarkan
data di atas gangguan sensori persepsi: halusinasi berada pada urutan pertama
yaitu berjumlah 222 kasus (93,2%), apabila tidak segera mendapatkan perawatan
dapat menyebabkan terjadi perilaku kekerasan yang diakibatkan dari sensori persepsi
tanpa adanya stimulus dari luar. Oleh karena itu, perawat sangat berperan dalam
proses penyembuhan penderita gangguan
jiwa melalui promosi kesehatan tentang pendidikan kesehatan jiwa dengan
memberikan penyuluhan kepada masyarakat cara meningkatkan kesehatan jiwa,
preventif tentang bagaimana cara mencegah terjadinya gangguan jiwa, seperti
dengan mengajarkan sikap asertif, kuratif tentang pengobatan pada klien
gangguan jiwa yang dilakukan perawat berkolaborasi dengan dokter dan
rehabilitatif meliputi dukungan keluarga serta lingkungan pada klien dengan
gangguan jiwa agar kembali bisa berinteraksi dengan orang lain.
Berdasarkan
hal tersebut di atas penulis tertarik untuk membuat makalah ilmiah dengan
masalah: “Asuhan Keperawatan pada Ny. N
dengan Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi: Pendengaran di Ruang Berry Rumah
Sakit Khusus Daerah Duren Sawit Jakarta”
B.
Tujuan Penulisan
1.
Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan makalah ini agar mahasiswa
memperoleh pengalaman nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien Ny.
N dengan gangguan sensori persepsi:
halusinasi pendengaran dan memperoleh informasi atau gambaran pelaksanaan
asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi
pendengaran di ruang Berry Rumah Sakit Duren Sawit Jakarta.
2.
Tujuan Khusus
a.
Mahasiswa
mampu melakukan pengkajian pada pasien Ny. N dengan gangguan sensori persepsi:
halusinasi pendengaran.
b.
Mahasiswa
mampu menentukan masalah keperawatan pada pasien Ny. N dengan gangguan sensori
persepsi: halusinasi pendengaran.
c.
Mahasiswa
mampu merencanakan tindakan keperawatan pada pasien Ny. N dengan gangguan
sensori persepsi: halusinasi pendengaran.
d.
Mahasiswa
mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien Ny. N dengan gangguan
sensori persepsi: halusinasi pendengaran.
e.
Mahasiswa
mampu melakukan evaluasi keperawatan pada pasien Ny. N dengan gangguan sensori
persepsi: halusinasi pendengaran.
f.
Mahasiswa
mampu mengidentifikasi kesenjangan antara teori dan praktik yang terdapat pada pasien
Ny. N dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran.
g.
Mahasiswa
mampu mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat dan mencari alternatif
pemecahan masalah pada pasien Ny. N dengan gangguan sensori persepsi:
halusinasi pendengaran.
h.
Mahasiswa
mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan pada pasien Ny. N dengan gangguan
sensori persepsi: halusinasi pendengaran.
C.
Ruang Lingkup
Dalam penulisan makalah ini, penulis membahas
ruang lingkup masalah pada pasien Ny. N dengan gangguan sensori persepsi:
halusinasi pendengaran di Ruang Berry Rumah Sakti Duren Sawit Jakarta selama
tiga hari yang dimulai tanggal 24-26 Juni 2013.
D.
Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini menggunakan metode
deskriftif dan kepustakaan, dimana metode deskriptif yaitu mengumpulkan data,
mengolah data, mengambil kesimpulan yang kemudian disajikan dalam bentuk
narasi, sedangkan studi kepustakaan yaitu dengan mempelajari buku-buku sumber
untuk memperoleh bahan-bahan ilmiah yang berhubungan dengan penulisan makalah
ini.
Adapun tehnik yang penulis gunakan dalam
penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Wawancara
Tehnik
ini dilaksanakan dengan cara melakukan tanya jawab dengan pasien dan perawat.
2. Observasi
Observasi
dilakukan dengan mengamati segala aktivitas klien secara langsung untuk
mengetahui perubahan tingkah laku dan perubahan fisik.
3. Studi Kepustakaan
Penulis
mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan konsep halusinasi serta hal-hal
yang menyangkut halusinasi dan keperawatannya.
4. Studi Dokumentasi
Merupakan
tahapan pengumpulan data-data dari status klien yang ada di ruangan,
mempelajari dan mencatat kejadian yang ada hubungannya dengan kasus yang
tercatat dalam catatan medik.
E.
Sistematika Penulisan
BAB I :
Pendahuluan yang terdiri dari: latar
belakang, tujuan penulisan, metode
penulisan, ruang lingkup dan sistematika penulisan.
BAB II :
Tinjauan teori meliputi: pengertian,
psikodinamika, rentang respon serta asuhan keperawatan terdiri dari, pengkajian
keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi keperawatan, dan
evaluasi keperawatan.
BAB III :
Tinjauan kasus yang terdiri dari:
pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, rencana tindakan keperawatan,
tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan.
BAB IV : Pembahasan
yang merupakan: uraian perbandingan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus,
dimulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan
evaluasi.
BAB V :
Penutup yang terdiri dari kesimpulan
dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
TINJAUAN TEORI
a)
Pengertian
Halusinasi adalah persepsi klien dengan lingkungan tanpa
stimulus yang nyata, artinya klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa
stimulus atau rangsangan dari luar (Keliat, dkk; 2005).
Halusinasi adalah hilangnya kemampuan
manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal
(dunia luar) (Kusumawati; 2010).
Halusinasi adalah individu
menginterpretasikan stresor yang tidak ada stimulus dari lingkungan (Fitria;
2010).
Halusinasi adalah persepsi yang salah
atau palsu tetapi tidak ada rangsangan yang menimbulkannya atau tidak ada objek
(Dalami, dkk; 2009).
b)
Psikodinamika ( Etiologi, Proses, Komplikasi)
1.
Etiologi
|
8
|
Faktor predisposisi adalah faktor yang
mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu
untuk mengatasi stres.
a.
Faktor
Perkembangan
Jika tugas dan perkembangan mengalami
hambatan dan hubungan interpersonal terganggu, maka individu akan mengalami
stress dan kecemasan.
b.
Faktor
Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya
gangguan jiwa. Jika seseorang mengalami stress yang berlebihan, maka didalam
tubuhnya akan dihasilkan zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia
seperti buffofenon dan dimethytranferase (DMP).
c.
Faktor
Genetik
Gen yang berpengaruh dalam skizofrenia
belum diketahui, tetapi hasil studi menunjukan bahwa faktor keluarga yang
sangat berpengaruh terhadap penyakit ini.
d.
Faktor
Biologis
Faktor Biologis yang menyebabkan
respon neurobiologi yang maladaptif termasuk hal-hal berikut:
1) Penelitian pencitraan otak yang menunjukan
keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan, lesi pada area frontal,
temporal dan limbik.
2) Beberapa kimia otak dikaitkan dengan skizofrenia
seperti dopamine neurotransmitter yang berlebihan dan masalah pada respon
dopamine.
e.
Faktor
Psikologis
Teori psikodinamika yang menggambarkan
bahwa halusinasi terjadi karena adanya isi alam tidak sadar yang masuk alam
sadar sebagai suatu respon terhadap konflik psikologis dan kebutuhan yang tidak
terpenuhi, sehingga halusinasi merupakan gambaran dan rangsangan dan ketakutan
yang dialami oleh klien.
f.
Faktor Sosial
Budaya
Stress yang menumpuk dapat menunjang
terhadap awitan skizofrenia dan gangguan psikotik lain tetapi diyakini sebagai
penyebab utama gangguan.
Faktor presipitasi adalah stimulus
yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman, atau tuntutan yang
memerlukan energi ekstra untuk menghadapinya. Adanya rangsang dari lingkungan,
seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama tidak diajak objek
berkomunikasi yang ada dilingkungan, dan juga suasana sepi yang terobsesi
sering menjadi pencetus terjadinya halusinasi. Hal tersebut dapat meningkatkan
stress dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik.
2.
Proses Terjadinya Masalah
Menurut
Kusumawati; 2010, tahap-tahap halusinasi terdiri dari empat tahapan, yaitu: tahap
pertama; pada tahap ini, halusinasi mampu memberikan rasa nyaman pada
klien, tingkat orientasi sedang. Secara umum pada tahap ini halusinasi
merupakan hal yang menyenangkan bagi klien. Adapun karakteristik yang tampak
pada individu adalah mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah dan ketakutan,
mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansietas, pikiran dan
pengalaman sensori masih ada dalam kontrol kesadaran, tahap kedua; pada tahap
ini klien bersikap menyalahkan dan mengalami tingkat kecemasan berat, secara
umum halusinasi menyebabkan rasa antipati. Adapun karakteristiknya yaitu
pengalaman sensori menakutkan, merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori
tersebut, mulai merasa kehilangan kontrol, menarik diri dari orang lain, tahap ketiga; klien biasanya
dapat mengontrol dirinya sendiri, tingkat kecemasan berat, dan halusinasinya
tidak dapat ditolak lagi. Adapun karakteristiknya yaitu klien menyerah dan
menerima pengalaman sensorinya (halusinasi), isi halusinasinya menjadi
atraktik, kesepian bila pengalaman sensori berakhir, tahap keempat; klien
sudah sangat dikuasai oleh halusinasi dan biasanya klien terlihat panik. Adapun
karakteristiknya yaitu pengalaman sensori menjadi mengancam, halusinasi dapat
menjadi beberapa jam atau beberapa hari.
3.
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada
klien dengan masalah utama gangguan sensori persepsi: halusinasi, antara lain:
resiko prilaku kekerasan, isolasi sosial, harga diri rendah, dan defisit
perawatan diri.
4.
Klasifikasi Halusinasi
Halusinasi dibagi menjadi lima jenis
(Dalami; 2009):
a. Halusinasi pendengaran atau auditori: halusinasi
yang seolah-olah mendengar suara, paling sering suara orang. Suara dapat
berkisar dari suara yang sederhana sampai suara orang berbicara mengenai klien,
klien mendengar orang orang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkan oleh
klien dan memerintah untuk melakukan sesuatu dan kadang melakukan yang
berbahaya.
b. Halusinasi penglihatan atau visual: halusinasi
yang merupakan stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometris
gambar kartun dan atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan dapat
berupa sesuatu yang menyenangkan.
c. Halusinasi penghidu atau olfaktori: halusinasi
yang seolah-olah mencium bau busuk, amis atau bau yang menjijikan seperti
darah, urine atau feses. Halusinasi penghidu khususnya berhubungan dengan
stroke, tumor, kejang dan dimensial.
d. Halusinasi pengecap: halusinasi yang seolah-olah
merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikan seperti darah, urine dan
feses.
e. Halusinasi peraba atau tartil: halusinasi yang
seolah-olah mengalami rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang tidak
terlihat. Merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau orang
lain.
c)
Rentang Respon
Rentang respon neurobiologi (Stuart;
2007):
Respon adaptif Respon Psikologis Respon
maladaptif
|
§ Pikiran terkadang
menyimpang
§ Ilusi
§ Emosional
berlebihan/dengan pengalaman kurang
§ Perilaku ganjil
§ Menarik diri
|
|
§ Kelainan fikiran
§ Halusinasi
§ Tidak mampu mengontrol
emosi
§ Ketidakteraturan
§ Isolasi sosial
|
|
§ Pikiran logis
§ Persepsi akurat
§ Emosi konsisten
§ Perilaku sosial
§ Hubungan sosial
|
Rentang respon neurobiologi terdiri
dari:
1. Respon Adaptif
Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima
norma-norma sosial budaya yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut
dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan masalah
tersebut, respon adaptif:
a. Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada
kenyataan.
b. Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada
kenyataan.
c. Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan
yang timbul dari pengalaman.
d. Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang
masih dalam batas kewajaran.
e. Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi
dengan orang lain dan lingkungan.
2. Respon Psikososial
Respon
psikosial meliputi:
a. Proses pikir terganggu adalah proses pikir yang
menimbulkan gangguan.
b. Ilusi adalah interpretasi atau penilaian yang
salah tentang penerapan yang benar-benar terjadi (objek nyata) karena
rangsangan panca indera.
c. Emosi berlebihan atau berkurang.
d. Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku
yang melebihi batas kewajaran.
e. Menarik diri adalah percobaan untuk menghindar
interaksi dengan orang lain.
3. Respon Maladaptif
Respon
maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang
dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan, adapun respon maladaptif
meliputi:
a. Kelainan pikiran adalah keyakianan yang secara
kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertetangan
dengan kenyataan sosial.
b. Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah
atau persepsi eksternal yang tidak realita atau tidak ada.
c. Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu
yang timbul dari hati.
d. Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu yang
tidak teratur.
e. Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang
dialami oleh individu dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan
sebagai suatu kecelakaan yang negatif mengancam.
d)
Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Keperawatan
a. Faktor Predisposisi
Faktor
biologis yaitu adanya kejadian terhadap fisik berupa atrofi otak, pembesaran
ventrikel, perubahan besar dan bentuk sel korteks dan limbic, faktor genetik
adanya pengaruh herediter berupa anggota keluarga terdahulu yang mengalami
Skizofrenia dan kembar monozigot.
Faktor
psikologis yaitu mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri,
harga diri rendah, identitas diri tidak jelas, krisis peran, gambaran diri
negatif dan koping destruktif.
b. Faktor Presipitasi
Faktor
presipitasi adalah stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan,
ancaman, atau tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk menghadapinya.
Adanya rangsang dari lingkungan, seperti partisipasi klien dalam kelompok,
terlalu lama tidak diajak objek berkomunikasi yang ada dilingkungan, dan juga
suasana sepi yang terobsesi sering menjadi pencetus terjadinya halusinasi. Hal
tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh
mengeluarkan zat halusinogenik.
Adapun
faktor presipitasi terdiri dari sistem pendukung yaitu data yang perlu dikaji
dari keluarga adalah finansial, waktu dan tenaga yang tersedia untuk merawat
klien. Kondisi keluarga yang perlu dikaji adalah komunikasi keluarga baik waktu
maupun kualitasnya. Respon klien adalah tanda dan gejala yang dapat dideteksi
sebagai respon yang terkait dalam fungsi otak.
c. Manifestasi Klinis
Bicara,
tersenyum sendiri, tertawa sendiri, mendengar suara, melihat, mengecap,
mencium, merasa sesuatu yang tidak nyata, merusak diri sendiri, orang lain dan
lingkungan, tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata, tidak dapat
berkonsentrasi, berbicara kasar, sikap curiga dan bermusuhan, menarik diri,
tekanan darah meningkat dan sulit membuat keputusan.
d. Sumber Koping
Sumber
koping individual harus dikaji dengan pemahaman tentang pengaruh gangguan otak
pada prilaku. Kekuatan dapat meliputi modal seperti intelegensi atau
kreativitas yang tinggi. Orang tua harus secara aktif mendidik anak-anak dan
dewasa muda tentang keterampilan koping karena mereka biasanya tidak hanya
belajar dari pengamatan. Sumber keluarga dapat berupa pengetahuan tentang
penyakit, finansial yang cukup, ketersediaan waktu dan tenaga, dan kemampuan
untuk memberikan dukungan secara berkesinambungan.
e. Mekanisme Koping
Mekanisme
koping merupakan tiap upaya yang diarahkan pada pengendalian stress, termasuk
upaya penyelesaian masalah secara langsung dan mekanisme pertahanan yang di
gunakan untuk melindungi diri (Stuart; 2007). Perilaku yang mewakili upaya
untuk melindungi diri sendiri dari pengalaman yang menakutkan berhubungan
dengan respon neurobiologi:
1)
Regresi, menghindari
stress, kecemasan dan menampilkan perilaku kembali seperti pada perilaku
perkembangan anak atau berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya
untuk menanggulangi ansietas.
2)
Proyeksi,
keinginan yang tidak dapat ditoleransi, mencurahkan emosi pada orang lain
karena kesalahan yang dilakukan diri sendiri (sebagai upaya untuk menjelaskan
kerancuan persepsi).
3)
Menarik diri,
reaksi fisik maupun psikologis, reaksi fisik yaitu individu pergi atau lari
menghindar sumber stressor, misalnya menjauh polusi, sumber infeksi, gas
beracun dan lain-lain, sedangkan reaksi psikologis individu menunjukan perilaku
apatis, mengisolasi diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut dan
bermusuhan.
f. Pohon Masalah
Pohon
masalah pada masalah utama gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran,
yaitu sebagai berikut:
Resiko perilaku kekerasan
|
Gangguan
sensori persepsi: halusinasi pendengaran
|
Gangguan konsep diri:
harga diri rendah
(Nita Fitria, 2011)
2.
Diagnosa Keperawatan
Dari
pohon masalah di atas dapat disimpulkan bahwa diagnosa keperawatan yang
terdapat pada klien dengan Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi Pendengaran
adalah:
a.
Gangguan
sensori persepsi: halusinasi pendengaran,
b.
Isolasi
sosial: menarik diri,
c.
Gangguan
konsep diri: harga diri rendah,
d.
Resiko
perilaku kekerasan.
3.
Perencanan Keperawatan
Intervensi
atau perencanaan keperawatan yang dapat dilakukan pada klien dengan masalah
utama (Core Problem) Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi Pendengaran adalah
sebagai berikut:
a. Rencana Keperawatan
Diagnosa 1: Gangguan sensori persepsi: halusinasi
pendengaran.
TUM : Klien dapat mengontrol halusinasi yang
dialaminya.
TUK 1: Klien dapat membina hubungan saling
percaya.
Intervensi:
Bina hubungan saling percaya dengan cara
menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.
1)
Sapa klien
dengan ramah baik verbal maupun non verbal.
2)
Perkenalkan
nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan.
3)
Tanyakan nama
lengkap dan nama panggilan yang disukai klien.
4)
Buat kontrak
yang jelas.
5)
Tunjukan
sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi.
6)
Tunjukan
sikap empati dan menerima apa adanya.
7)
Berikan
perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
8)
Tanyakan
perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien.
9)
Dengarkan
dengan penuh perhatian ekpresi perasaan klien.
TUK 2: Klien dapat mengenali halusinasi
Intervensi:
a. Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap.
b. Observasi tingkah laku klien yang terkait dengan
halusinasinya, dengar, lihat, penghidu, raba dan pengecapan, jika menemukan
klien yang sedang halusinasi : tanyakan apakah klien mengalami sesuatu
(halusinasi dengar, lihat, penghidu, raba dan pengecap), jika klien menjawab
ya, tanyakan apakah yang sedang dialaminya, katakan bahwa perawat percaya klien
mengalami hal tersebut, namun perawat sendiri tidak mengalaminya (dengan nada
bersahabat tanpa menuduh dan menghakimi), katakan bahwa ada klien lain yang
mengalami hal yang sama, dan katakan bahwa perawat akan membantu.
c. Jika klien tidak sedang halusinasi, klarifikasi
tentang adanya pengalaman adanya halusinasi, diskusikan dengan klien isi,
waktu, dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore malam) atau
sering dan kadang-kadang, situasi dan kondisi yang menimbulkan atau tidak
menimbulkan halusinasi.
d. Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika
terjadi halusinasi dan beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan
perasaannya.
e. Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk
mengatasi hal tersebut.
f. Diskusikan tentang dampak yang akan dialaminya
bila berhalusinasinya.
TUK 3: Klien dapat mengontrol halusinasinya.
Intervensi :
a. Identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang
akan dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukan diri, dan
lain-lain),
b. Diskusikan cara yang digunakan, jika cara yang
dilakukan klien adaptif, maka berikan pujian, jika cara yang digunakan
maladaptif, diskusikan dengan klien cara tersebut.
c. Diskusikan cara baru untuk memutus atau mengontrol
timbulnya halusinasi dengan cara katakan pada diri sendiri bahwa ini tidak
nyata, ( “saya tidak mau dengar, lihat, mencium, meraba dan mengecap pada saat
halusinasi terjadi), menemui orang lain atau perawat, teman ataupun anggota
keluarga untuk menceritakan halusinasinya, membantu dan melaksanakan jadwal
kegiatan harian yang telah disusun, dan
meminta keluarga, teman, perawat menyapa klien jika sedang berhalusinasi.
d. Bantu klien memilih cara yang sudah dianjurkan dan
latih untuk mencobanya,
e. Beri kesempatan pada klien untuk melakukan cara
yang dipilih dan dilatih,
f. Pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan dilatih
jika berhasil berikan pujian,
g. Anjurkan klien mengikuti terapi aktivitas
kelompok, orientasi realita stimulasi persepsi.
TUK 4: Klien dapat dukungan dari keluarga dalam
mengontrol halusinasinya
Intervensi:
a. Buat kontrak dengan keluarga untuk pertemuan
(waktu, tempat dan topik).
b. Diskusikan dengan keluarga (pada saat pertemuan
keluarga, kunjungan rumah) tentang pengertian halusinasi, tanda dan gejala
halusinasi, proses terjadinya halusinasi, cara yang dapat dilakukan klien dan
keluarga untuk memutus halusinasi, obat-obatan halusinasi, cara merawat anggota
keluarga yang bila halusinasi dirumah (beri kegiatan, jangan biarkan sendiri,
makan bersama, memantau obat-obatan dan cara pemberiannya untuk mengatasi
halusinasinya), dan beri informasi waktu kontrol ke rumah sakit dan bagaimana
cara mencari bantuan jika halusinasi tidak dapat diatasi di rumah.
TUK 5: Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
Intervensi:
a. Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan
kerugian bila tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara, efek terapi dan efek
samping penggunaan obat.
b. Pantau klien saat penggunaan obat.
c. Beri pujian bila klien menggunakan obat dengan
benar.
d. Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa
konsultasi dengan dokter.
e. Anjurkan klien untuk konsultasi pada dokter atau
perawat jika terjadi halusinasi yang tidak diinginkan.
b. Penatalaksanaan Medis
Halusinasi
merupakan salah satu gejala yang paling sering terjadi pada gangguan
Skizofrenia. Dimana Skizofrenia merupakan jenis psikosis, adapun tindakan
penatalaksanaan dilakukan dengan berbagai terapi yaitu dengan:
1)
Psikofarmakologis
Dengan
pemberian obat-obatan yang lazim digunakan pada gejala halusinasi pendengaran
yang merupakan gejala pada klien Skizofrenia adalah obat-obatan anti Psikosis,
karena Skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan Psikosis. Chlorpromazine
(CPZ), untuk mengatasi psikosa, dan mengurangi gejala emesis. Untuk
gangguan jiwa, dosis awal: 3×25 mg, kemudian dapat ditingkatkan supaya optimal,
dengan dosis tertinggi : 1000 mg/hari secara oral. Trihexyphenidil (THP),
diberikan 1 mg pada hari pertama dan
hari kedua diberikan 2 mg /hari hingga mencapai 6-10 mg/ hari untuk
pengobatan berbagai bentuk Parkinson, efek samping mulut kering, penglihatan
kabur, pusing, mual, muntah, takikardi dan konstipasi.
2)
Psikosomatik
Terapi
kejang listrik (Electro Compulsive Therapy), yaitu suatu terapi fisik atau
suatu pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal secara artifisial dengan
melewatkan aliran listrik melalui elektroda yang dipasang pada satu atau dua
temples pada pelipis. Jumlah tindakan yang dilakukan merupakan rangkaian yang
bervariasi pada setiap pasien tergantung pada masalah pasien dan respon
terapeutik sesuai hasil pengkajian selama tindakan. Pada pasien Skizofrenia
biasanya diberikan 30 kali. ECT biasanya diberikan 3 kali seminggu walaupun
biasanya diberikan jarang atau lebih sering. Indikasi penggunaan obat: penyakit
depresi berat yang tidak berespon terhadap obat, gangguan bipolar di mana
pasien sudah tidak berespon lagi terhadap obat dan pasien dengan bunuh diri
akut yang sudah lama tidak mendapatkan pertolongan.
3)
Psikoterapi
Membutuhkan
waktu yang relatif lama, juga merupakan bagian penting dalam proses terapeutik.
Upaya dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang,
menciptakan lingkungan terapeutik, memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaan
secara verbal, bersikap ramah, sopan, dan jujur terhadap klien.
c. Prinsip Keperawatan
Menetapkan hubungan terapeutik, kontak sering dan
singkat secara bertahap, peduli, empati, jujur, menepati janji dan memenuhi
kebutuhan dasar klien. Pada umumnya melindungi dari perilaku yang membahayakan,
tidak membenarkan ataupun menyalahkan halusinasi klien, melibatkan pasien dan
keluarga dalam perencanaan asuhan keperawatan dan mempertahankan perilaku
keselarasan verbal dan nonverbal.
4.
Pelaksanaan Keperawatan
Implementasi disesuaikan
dengan rencana tindakan keperawatan. Pada situasi nyata sering pelaksanaan jauh
berbeda dengan rencana, hal ini terjadi karena perawat belum terbiasa
menggunakan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan keperawatan (Dalami, dkk;
2009). Sebelum melaksanakan tindakan keperawatan yang sudah direncanakan,
perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai
dan dibutuhkan klien sesuai dengan kondisinya (here and now). Perawat juga
menilai diri sendiri, apakah kemampuan interpersonal, intelektual, tekhnikal
sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan, dinilai kembali apakah aman bagi
klien. Setelah semuanya tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh
dilaksanakan.
Adapun pelaksanaan
tindakan keperawatan jiwa dilakukan berdasarkan Strategi Pelaksanaan (SP) yang
sesuai dengan masing-masing masalah utama. Pada masalah gangguan sensori
persepsi: halusinasi pendengaran, terdapat 2 jenis SP, yaitu SP Klien dan SP
Keluarga.
SP klien terbagi menjadi
SP 1 (membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi halusinasi (jenis, isi,
waktu, frekuensi, situasi, respon), mengajarkan cara menghardik, memasukan cara
menghardik ke dalam jadwal; SP 2 (mengevaluasi SP 1, mengajarkan cara bercakap-cakap
ketika halusinasi muncul, memasukan ke dalam jadwal); SP 3 (mengevaluasi SP 1
dan 2, menganjurkan untuk melakukan kegiatan untuk menghindari halusinasi
muncul, memasukan ke dalam jadwal); SP 4 (mengevaluasi SP 1, 2, dan 3,
mengajarkan tentang minum obat, memasukan ke dalam jadwal).
SP keluarga terbagi
menjadi SP 1 (membina hubungan saling percaya, mendiskusikan masalah yang
dihadapi keluarga dalam merawat pasien, menjelaskan pengertian, tanda dan
gejala helusinasi, jenis halusinasi yang dialami klien beserta proses
terjadinya, menjelaskan cara merawat pasien halusinasi); SP 2 (melatih keluarga
mempraktekan cara merawat pasien dengan halusinasi, melatih keluarga melakukan
cara merawat langsung kepada pasien halusinasi); SP 3 (membantu keluarga
membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planing),
menjelaskan follow up pasien setelah pulang).
Pada saat akan dilaksanakan tindakan keperawatan maka kontrak dengan
klien dilaksanakan dengan menjelaskan apa yang akan dikerjakan dan peran serta
klien yang diharapkan, dokumentasikan semua tindakan yang telah dilaksanakan
serta respon klien.
5.
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah proses
yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien
(Dalami; 2009). Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap
tindakan yang telah dilaksanakan, evaluasi dapat dibagi dua jenis yaitu:
evaluasi proses atau formatif dilakukan selesai melaksanakan tindakan. Evaluasi
hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan umum
dan tujuan khusus yang telah ditentukan.
Evaluasi keperawatan yang
diharapkan pada pasien dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran
adalah: tidak terjadi perilaku kekerasan, klien dapat membina hubungan saling percaya,
klien dapat mengenal halusinasinya, klien dapat mengontrol halusinasinya, klien
mendapatkan dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya, klien dapat
menggunakan obat dengan baik dan benar.
|
|
TINJAUAN KASUS
Pada
bab ini penulis akan menguraikan asuhan keperawatan pada Ny. N dengan Gangguan
Sensori Persepsi: Halusinasi Pendengaran di Ruang Berry Rumah Sakit Duren Sawit
Jakarta sejak tanggal 24-26 Juni 2013.
A.
Pengkajian
1.
Identitas Klien
Klien
bernama Ny. N, usia 34 tahun, jenis kelamin perempuan, status klien menikah, klien
beragama Islam, suku bangsa betawi, pendidikan terakhir MTs, sumber informasi Pasien,
perawat ruangan, dan status klien, klien masuk Ruang Berry pada tanggal 17 juni
2013 tanggal pengkajian 24 Juni 2013, nomor register 123614, diagnosa medis Gangguan
skizofenia tidak tergolongkan.
2.
Alasan Masuk
|
28
|
3.
Faktor Predisposisi
Klien
mengatakan belum pernah dirawat di rumah sakit dengan kondisi seperti ini
(gangguan jiwa) sebelumnya klien mengatakan selama di Panti malas minum obat
satu jenis, klien mengatakan waktu dipanti siap harinya senam pagi, ngepel,
nyuci pakaian. Klien mengatakan pernah menjadi korban penganiayaan fisik yitu
ditampar dan cekik oleh suami 2 tahun yang lalu karena klien ingin mengambil
anaknya saatnya berada bersama suaminya, perasaan klien saat itu sedih dan
menangis, yang dilakukan saat itu hanya diam. klien mengatakan ada anggota keluarga yang pernah dirawat di rumah sakit
khusus daerah duren sawit 3 tahun yang
lalu yaitu : kakak kandungnya dirawat karena bicara sendiri, tertawa sendiri,
menanggis dan terkadang telanjang dijalanan. Pada saat ditanya pengalaman yang
tidak menyenangkan dimasa lalunya, klien mengatakan pernah sakit hati dengan pacar karena
ditinggal pacar tanpa alasan, perasaan klien saat itu sngat sedih yang
dilakukan pasien saat itu adalah menggurung diri dikamar tidak ingin bicara pada
siapa pun.
Masalah
keperawatan : Resiko perilaku kekerasan
gangguan konsep diri: harga diri rendah, dan penatalaksanaan regiment teraupetik
inefektif.
4.
Pemeriksaan Fisik
Pada
saat dilakukan pemeriksaan fisik tanggal 24 Juni 2013 didapatkan data tekanan
darah 110/ 80 mmHg, nadi 78 x/ menit, pernapasan 18 x/ menit, suhu 36,50C,
tinggi badan 146 cm, berat badan 70 kg, pasien mengatakan tidak mempunyai
keluhan fisik.
Masalah keperawatan : tidak ditemukan masalah keperawatan
5.
Psikososial
a.
Genogram
Klien anak kedelapan dari sepuluh bersaudara, Sebelum masuk rumah sakit, klien tinggal
bersama orang tuanya anak dan suaminya. klien mempunyai suami dan satu orang
anak, klien mengatakan lebih dekat dengan ibunya, tidak bekerja sebelum masuk
rumah sakit. klien mengatakan orang tuanya dalam mendidik tidak pernah dengan cara
kasar. klien mengatakan tidak ada masalah komunikasi
dengan keluarganya. klien mengatakan bila ada masalah selalu dibicarakan bersama ibunya dan pengambil
keputusan dalam keluarga adalah ayah.
Masalah
keperawatan: Tidak ditemukan masalah
keperawatan,
b.
Konsep Diri
Klien
mengatakan anggota tubuh yang paling disukai adalah rambut karena rambutnya
ikal, yang tidak disukai adalah kakinya karena kotor malas disikat. klien
mengatakan namanya Ny. N usia 34 tahun, beragama Islam, berjenis kelamin perempuan,
pendidikan terkhir MTs, belum berkerja, sudah menikah, mempunyai satu orang
anak laki-laki. klien mengatakan perannya sebagai ibu rumah tangga, klien
mengatakan perannya di rumah sakit sebagai klien. klien mengatakan ingin sembuh
dan ingin kembali dengan keluarga, harapannya nanti ingin menjadi guru ngaji. klien
mengatakan dengan kondisinya dirawat di dirumah sakit Duren Sawit klien tidak
malu karena ingin sembuh dari penyakit jiwanya.
Masalah keperawatan: tidak ditemukan nya masalah
keperawatan.
c.
Hubungan
Sosial
Klien
mengatakan orang yang berarti dalam hidupnya adalah anaknya karena anak
satu-satunya yang dimiliki saat ini, dan
ibu karena membawanya kesini untuk kesembuhannya. sedangkan dirumah sakit Duren
Sawit semua perawat disini karena mau membantu dan mengobati penyakitnya. klien
mengatakan di lingkungan sekitar rumah (masyarakat) dia jarang bergaul, klien
pernah merasa malu karena pada saat pengajian dirumahnya dengan ibu-ibu tidak
bisa menyediakan makanan. Semenjak itu pasien berhenti mengikuti pengajian, dan
jarang bergaul dengan ibu-ibu pengajian, perannya hanya sebatas warga kampung.
Saat dirumah sakit Duren Sawit klien mengikuti kegiatan TAK dan rehabilitas, klien
mengatakan perasaan saat melakukan
kegiatan itu senang terutama saat
mengikuti rehabilitas karena diajarkan membuat kalung dan gelang. klien
mengatakan hambatannya dalam berhubungan dengan orang lain adalah malu dengan sepupunya
karena sering di ejek dengan sebutan orang gila, perasaannya saat itu sedih dan kadang-kadang marah dengan melempari botol
dan gelas kearah sepupunya.
Masalah keperawatan: Gangguan konsep diri: harga diri rendah, resiko
prilaku kekerasan, Isolasi sosial: menarik diri.
d.
Spiritual
Pasien
mengatakan yakin dengan Allah SWT. Karena dengan Dia lah bisa sembuh semua
penyakit. klien mengatakan sholat 5 waktu yakni subuh jam 05.00wib, dzuhur jam
12.00wib, ashar jam 15.00wib, magrib jam 18.00wib dan isa’ jam 19.30wib. klien
terlihat sholat dzuhur jam 12.20 wib. ashar jam 15.15wib dan magrib jam 18.00
wib.
Masalah keperawatan: tidak ditemukan masalah
keperawatan.
6.
Status Mental
a.
Dari hasil
observasi, cara berpakaian pasien sesuai tapi penampilan klien terlihat tidak
rapi, tercium bau tidak sedap, klien mengatakan mandi 2 kali sehari jika
diingatkan. Kaki klien terlihat kotor, rambut terlihat rapi, kuku kotor, kulit
terlihat kotor, gigi terlihat bersih.
Masalah keperawatan: Defisit perawatan diri: personal hygine, berhias. berpakaian
b.
Saat
interaksi, klien bicara cepat, keras, tidak gagap. pasien mampu memulai
pembicaraan, klien kooperatif, dan koheren.
Masalah keperawatan: resiko prilaku kekerasan.
c.
Aktivitas
motorik klien pada saat berinteraksi terlihat bersemangat dan santai menjawab
pertanyaan yang diajukan, tidak gelisah , tidak tegang, tidak Tik, tidak
tremor, tidak agitasi, atau pun kompulsif.
Masalah keperawatan: tidak ditemukan masalah
keperawatan.
d.
Alam perasaan
klien saat interaksi senang karena sedang ngobrol dangan perawat. klien
terlihat senang.
masalah Masalah keperawatan: tidak ditemukan
keperawatan.
e.
Afek klien
labil, klien saat berinteraksi emosi klien suka mengalihkan pembicaraan capat
berubah, saat menceritakan tentang hubungan klien dengan keluarganya.
Masalah keperawatan: Resiko
perilaku kekerasan
f. Selama interaksi : klien kooperatif, menjawab
semua pertanyaan dari perawat, kontak mata kurang, kadang
menundukkan kepala, nada suara cepat
dan keras.
Maslah keperawatan: Resiko perilaku kekerasan, Gangguan konsep diri: harga diri rendah,
g.
Klien mengatakan
sering mendengar suara-suara yang tidak ada wujudnya, klien mengatakan dalam
sehari suara tersebut bisa 3 kali terdengar, lamanya suara itu muncul 3-5
menit, datangnya subuh jam 05.00 wib saat bagun tidur, sore jam 14.00 wib dan
malam jam 24.00 wib saat tidur
(terbangun), juga ketika dia sedang sendiri, klien mengatakan suara tersebut
suara wanita dan laki-laki yang mengatakan diam dan duduk, klien mengatakan
perasaannya takut saat suara-suara tersebut datang, pasien bersembunyi saat
suara itu datang, klien terlihat sering menyendiri dan sesekali terlihat bicara
sendiri,
Masalah keperawatan: Gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran.
h.
Proses pikir pasien
baik yaitu saat interaksi tidak berbelit-belit dan langsung ke topik dan
tujuan, selama interaksi tiba-tiba klien berhenti bicara lalu menutup kuping,
dan klien mengatakan “ jangan dengarkan kamu suara palsu” dan klien melanjutkan
pembicaraan,
Masalah keperawatan: gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran.
i.
Isi pikir klien
saat interaksi tidak ditemukannya obsesi, klien tidak merasa asing pada
dirinya, klien tidak merasa ada gangguan dalam tubuhnya dan klien tidak ada
pikiran magis.
Masalah keperawatan : tidak ditemukan masalah keperawatan.
j.
Saat
interaksi kesadaran klien baik yaitu saat ditanya waktu, klien mengatakan hari
ini hari senin tanggal 24 Juni 2013 dan saat ditanya tempat, klien mengatakan
saat ini berada di Rumah Sakit Duren Sawit dan ada di Ruang Berry, bersama
bluder gusti.
Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan.
k.
gangguan
jangka panjang, jangka pendek, dan saat ini klien tidak ada masalah yaitu, klien
mampu mengingat dibawa ke Ruang Berry pada tanggal 17 Juni 2013, sedangkan jangka
panjang, klien mengatakan 1 bulan yang lalu klien lagi dirumah sedang masak
sayur, klien mampu mengingat nama perawat : bluder Gusti.
Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan.
l.
Klien mampu
berhitung sederhana yaitu mulai dari angka 1-10 dan mampu berhitung sulit
sekalipun yaitu 100-2 = 98, 98+10= 108, 108:2 = 54, saat kosentrasi tidak da
bloking dan klien tampak serius mendengarkan pembicaraan atau pertanyaan
perawat, pada saat dilakukan pengkajian klien mampu mengambil keputusan
sederhana, ketika diberi pilihan untuk makan dulu baru mandi atau mandi dulu
baru makan. Menurut klien lebih baik mandi dulu baru makan karena supaya
bersih.
Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan.
m. Klien tidak mengingkari penyakit yang dideritanya
pasien mengatakan darinya mengalami gangguan jiwa karena ada syaraf yang
terganggu.
Masalah keperawatan: tidak ditemukanya maslah keperawatan.
7.
Kebutuhan Persiapan Pulang
klien mengatakan di rumah
makan 3 x sehari dengan banyaknya 1 porsi. Klien mengatakan alat-alat yang digunakan untuk
makan piring, gelas, sendok. Klien mengatakan melakukannya
secara mandiri. Dan pada saat di rumah sakit klien mengatakan makan 3 x sehari dan menghabiskan
1 porsi. Klien mengatakan makan sendiri tanpa dibantu perawat. Klien mengatakan pada saat ingin BAB/BAK pergi ke
kamar mandi. Dalam memenuhi kebutuhan BAB/BAK klien melakukannya tanpa bantuan dari orang lain.
Di rumah sakit klien mengatakan BAB/BAK ke kamar mandi tanpa bantuan perawat. klien mengatakan di rumah mandi 2-3 x sehari dengan
menggunakan sabun, sampo, dan gosok gigi secara mandiri. Klien
mengatakan
selesai mandi memakai baju yang bersih, menyisir rambut. Dan di rumah sakit
klien mengatakan mandi 2 x sehari memakai sabun, sampo, dan gosok gigi setelah
itu menggunakan baju bersih, menyisir rambut dan memakai bedak tanpa bantuan
perawat. klien mengatakan di rumah
tidur malam lamanya 7-8 jam, tidur siang 1-2 jam. Klien mengatakan kegiatan
sebelum tidur menonton TV. Dan di rumah sakit klien mengatakan lamanya tidur malam 7-8 jam, tidur
siang 2-3 jam, klien mengatakan tidak ada
kegiatan yang dilakukan sebelum tidur. Klien mengatakan minum obat 2 x sehari dan klien
dapat minum obat secara mandiri dengan obat yang disediakan oleh perawat. Dan
di rumah klien mengatakan minum obat teratur karena selalu diingatkan oleh
suaminya. Klien mengatakan bila ada
keluarga yang sakit pergi ke puskesmas karena dekat dari rumahnya dan biayanya
juga murah. Klien mengatakan setiap hari
mempersiapkan makanan, membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Klien mengatakan keuangan
di atur oleh suaminya. Klien mengatakan di rumah sakit melaksanakan piket sesuai jadwal piketnya.
Klien mengatakan
tidak ada kegiatan yang dilakukan diluar rumah selain belanja ke pasar.
Masalah
keperawatan: diri: tidak ditemukan
masalah keperawatan.
8.
Mekanisme Koping
Klien
mengatakan jika ada masalah ketika dirumah meminta pendapat kakaknya sedangakan
saat di rumah sakit Duren sawit lebih suka menyendiri, karena klien malu
menceritakan masalahnya dengan orang lain karena tidak ingin orang tahu
masalahnya.
Masalah
keperawatan: Isolasi sosial, gangguan
konsep diri: harga diri rendah.
9.
Masalah Psikososial dan Lingkungan
Klien mengatakan nanti pulang ingin mengikuti pengajian dengan ibu-ibu. Klien mengatakan akan menjaga hubungan baik antar tetangga mau bergaul dengan mereka. Klien mengatakan puas dengan pendidikannya sampai MTs karena yang penting bisa membaca dan
menulis. Klien mengatakan malu
karena tidak bekerja dan klien ingin
menjadi guru ngaji. Klien mengatakan keadaan rumah orang tua sederhana. Klien mengatakan ekonomi dalam keluarganya sederhana
yaitu jika tidak bisa membeli beras minta sama keluarganya. Klien mengatakan
dengan pelayanan kesehatan jika dirinya atau keluarga sakit langsung dibawa kepuskesmas
keramat jati. Klien mengatakan tidak
mengetahui ada dan tidak dukungan dari tetangga atau teman dekat.
Masalah
keperawatan: Gangguan konsep diri: harga
diri rendah.
10.
Pengetahuan Kurang Tentang Koping
Klien mengatakan
tidak mengetahui cara yang tepat untuk mengatasi masalah yang berat, dan klien
mengatakan kurang mengetahui tentang obat yang harus diminum jika pulang nanti.
11.
Aspek Medik
Diagnosa medik F 20.3 : Skizofrenia
tidak terinci.
Terapi medik yang diberikan kepada
klien yaitu Trihexipendil (THP) 1x2 mg (melemaskan otot-otot yang kaku) dan seroquel
1x300 mg (mengurangi halusinasi).
Jakarta, 24 Juni 2013
Mahasiswa
Gusti .M. Azhari
12.
Analisa Data
Initial klien : Ny. N
No. RM : 123614
Ruangan : Berry
No.
|
Data
|
Masalah Keperawatan
|
1.
|
Data subjektif:
a) Klien mengatakan pernah menjadi korban
penganiayaan fisik yitu ditampar dan cekik oleh suami 2 tahun yang lalu ,
perasan klien saat itu sedih dan menggis, yang dilakukan saat itu hanya diam.
b) Klien mengatakan dibawanya ke panti laras
cipayung karena menyeberang ke jalan tol membawa gunting, ingin membunuh
seseorang.
c) Klien mengatakan pernah melempar gelas dan
piring.
d) Klien mengatakan pernah marah dan melempari
botol dan gelas kearah sepupunya.
Data objektif:
a) Mata klien menatap tajam, bicara dengan nada
tinggi,cepat dan keras.
b) Emosi klien terlihat mengalihkan pembicaraan
capat berubah
c) Klien terlihat mondar mandir.
|
Resiko perilaku kekerasan.
|
2.
|
Data subjektif:
a) Klien mengatakan mendengar suara bisikan, laki-laki
dan perempuan yang menyuruhnya untuk diam dan duduk.
b) Klien mengatakan takut bila suara itu muncul.
c) Klien mengatakan lama suara itu muncul 3-5
menit.
d) Klien mengatakan ketika suara itu muncul,
bersembunyi dikamar.
e) Klien mengatakan suara itu sering terdengar ketika
sedang tidur (terbagun), bangun tidur dan ketika dia sedang sendiri,
f) Klien mengatakan
dalam sehari, suara itu bisa muncul 3 kali.
Data objektif:
a) Klien terlihat bicara sendiri,
b) Klien terlihat mondar-mandir,
c) Klien bloking saat berinteraksi dengan perawat
untuk mendengarkan sesuatu
d) Klien terlihat menghardik ketika sudah diajarkan
perawat.
|
Gangguan sensori persepsi: halusinasi
pendengaran.
|
3.
|
Data subjektif:
a) Klien mengatakan di lingkungan sekitar rumahnya
dia jarang bergaul, perannya hanya sebatas warga kampung.
b)
Klien mengatakan tidak pernah
ikut kerja bakti di masyarakat karena sibuk dan klien mengatakan jarang
berbincang-bincang dengan tetangga karena lebih senang di rumah.
c) Klien mengatakan lebih suka menghabiskan waktu
di rumah, nonton televisi sendiri,
d) Klien mengatakan kalau ada masalah lebih suka
menyendiri saat di RSKD duren sawit.
e) Klien mangatakan pernah mengurung diri dikamar
karena ditinggal pacar dan tidak ingin bicara dengan siapa pun.
Data objektif:
a) Klien terlihat menyendiri di meja makan,
b) Klien terlihat tidak mudah memulai percakapan,
c) Klien tidak pernah terlihat berbincang-bincang
dengan teman di RSKD Duren Sawit.
|
Isolasi sosial : menarik diri.
|
4.
|
Data subjektif:
a) Klien
mengatakan malu karena tidak bekerja dan hanya
mengharapkan penghasilan dari suami,
b) Klien mengatakan malu menceritakan masalahnya
dengan orang lain.
c) Klien mengatakan malu dengan sepupunya karena
sering di ejek dengan sebutan orang gila
d) Klien pernah merasa malu karena pada saat
pengajian dirumahnya dengan ibu-ibu tidak bisa menyediakan makanan
Data objektif:
a) Klien terlihat sering menunduk (kontak mata
kurang),
b) Klien terlihat sedih ketika menceritakan tentang
dirinya.
|
Gangguan konsep diri: Harga diri rendah.
|
5.
|
Data subjektif:
a) Klien mengatakan mandi 2 kali sehari
b) Klien mangatakan mandi mngunakan sabon,
sampo,tetapi jarnang menyikat kaki karna malas.
Data objektif:
a) Kaki klien terlihat kotor,
b) Pakaian klien terlihat tida rapi( kusut)
c) Kulit klien terlihat kotor,
d) kuku klien terlihat kotor,
e) Klien tercium bau tidak sedap (aroma tubuh
klien).
|
Defisit perawatan diri: berhias, berpakain
|
13.
Pohon Masalah
|
Gangguan
sensori persepsi: halusinasi pendengaran
|
Gangguan konsep diri: harga diri rendah
14.
Daftar Masalah Keperawatan
a. Gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran.
b. Isolasi sosial:menarik diri.
c. Harga diri rendah.
d. Defisit perawatan diri: berhias, berpakaian
e. Resiko perilaku kekerasan.
B.
Diagnosa Keperawatan
1.
Gangguan
sensori persepsi: halusinasi pendengaran.
2.
Isolasi
sosial:menarik diri.
3.
Gangguan
konsep diri : Harga diri rendah.
4.
Resiko
perilaku kekerasan.
5.
Defisit
perawatan diri:berhias, berpakaian.
C.
Rencana Keperawatan
Diagnosa
1: Gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran.
TUM : Klien dapat mengontrol halusinasi yang
dialaminya.
TUK 1: pasien dapat membina hubungan saling
percaya.
Kriteria Evaluasi : Setelah 1x interaksi selama 10 menit
diharapkan klien menunjukan tanda-tanda percaya kepada perawat: ekspresi wajah
bersahabat, menunjukan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau
menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat,
bersedia mengungkapkan masalah yang dihadapi.
Intervensi :
Bina hubungan saling percaya dengan
cara menggunakan prinsip komunikasi terapeutik, sapa pasien dengan ramah baik
verbal maupun non verbal, perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan
perawat berkenalan, tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai pasien,
buat kontrak yang jelas, tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali
interaksi, tunjukan sikap empati dan menerima apa adanya, berikan perhatian
pada pasien dan perhatikan kebutuhan dasar pasien, tanyakan perasaan pasien dan masalah
yang dihadapi pasien, dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan pasien.
TUK 2: pasien dapat mengenali halusinasi
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan klien menyebutkan: Isi, waktu,
frekuensi, situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi.
Intervensi :
Adakan kontak sering dan singkat secara
bertahap, observasi tingkah laku pasien yang terkait dengan halusinasinya,
dengar, lihat, penghidu, raba dan pengecap, jika menemukan pasien yang sedang
halusinasi: tanyakan apakah pasien mengalami sesuatu (halusinasi dengar, lihat,
penghidu, raba dan pengecap), jika pasien menjawab ya, tanyakan apakah yang
sedang dialaminya, katakan bahwa perawat percaya pasien mengalami hal tersebut,
namun perawat sendiri tidak mengalaminya (dengan nada bersahabat tanpa menuduh
dan menghakimi), katakan bahwa ada pasien lain yang mengalami hal yang sama,
katakan bahwa perawat akan membantu, jika pasien tidak sedang halusinasi,
klarifikasi tentang adanya pengalaman adanya halusinasi, diskusikan dengan pasien:
Isi, waktu, dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore malam) atau
sering dan kadang-kadang, situasi dan kondisi yang menimbulkan atau tidak
menimbulkan halusinasi.
Kriteria Evaluasi : Setelah 1x interaksi selama 10 menit
diharapkan klien menyatakan perasaan dan responnya saat mengalami halusinasi:
Marah, takut, sedih, senang, cemas, jengkel.
Intervensi : Diskusikan dengan pasien apa yang dirasakan
jika terjadi halusinasi dan beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan
perasaanya, diskusikan dengan pasien apa yang dilakukan untuk mengatasi hal
tersebut, diskusikan tentang dampak yang akan dialaminya bila berhalusinasinya.
TUK 3: pasien dapat mengontrol halusinasinya.
Kriteria Evaluasi : Setelah 1x interaksi selama 10 menit
diharapkan pasien menyebutkan tindakan dilakukan untuk mengendalikan
halusinasinya
Intervensi : Identifikasi bersama pasien cara atau
tindakan yang akan dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukan
diri, dan lain-lain), diskusikan cara yang digunakan: jika cara yang dilakukan pasien
adaptif, maka berikan pujian, jika cara yang digunakan maladaptif, diskusikan
dengan pasien cara tersebut, diskusikan cara baru untuk memutus atau mengontrol
timbulnya halusinasi: katakan pada diri sendiri bahwa ini tidak nyata, ( “saya
tidak mau dengar, lihat, mencium, meraba dan mengecap pada saat halusinasi
terjadi), menemui orang lain atau perawat, teman ataupun anggota keluarga untuk
menceritakan halusinasinya, membantu dan melaksanakan jadwal kegiatan harian
yang telah disusun, meminta keluarga, teman, perawat menyapa pasien jika sedang
berhalusinasi, bantu pasien memilih cara yang sudah dianjurkan dan latih untuk
mencobanya, beri kesempatan pada klien untuk melakukan cara yang dipilih dan
dilatih, pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan dilatih jika berhasil
berikan pujian, anjurkan pasien mengikuti terapi aktivitas kelompok, orientasi
realita stimulasi persepsi.
TUK 4: pasien dapat dukungan dari keluarga dalam
mengontrol halusinasnya.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit
diharapkan keluarga menyatakan setuju untuk mengikuti pertemuan dengan perawat,
menyebutkan pengertian, tanda dan gejala, proses terjadinya halusinasi dan
tindakan untuk mengendalikan halusinasi.
Intervensi :
Buat kontrak dengan keluarga untuk
pertemuan (waktu, tempat dan topik), diskusikan dengan keluarga (pada saat
pertemuan keluarga, kunjungan rumah), pengertian halusinasi, tanda dan gejala
halusinasi, proses terjadinya halusinasi, cara yang dapat dilakukan pasien dan
keluarga untuk memutus halusinasi, obat-obatan halusinasi, cara merawat anggota
keluarga yang bila halusinasi di rumah (beri kegiatan, jangan biarkan sendiri,
makan bersama, memantau obat-obatan dan cara pemberiannya untuk mengatasi
halusinasinya), beri informasi waktu kontrol ke Rumah Sakit dan bagaimana cara
mencari bantuan jika halusinasi tidak dapat diatasi di rumah.
TUK 5: pasien dapat memanfaatkan obat dengan baik.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 3x interaksi pasien
menyebutkan: Manfaat minum obat, kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis,
dan efek samping obat.
Intervensi :
Diskusikan dengan pasien tentang
manfaat dan kerugian bila tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara, efek
terapi dan efek samping penggunaan obat, pantau klien saat penggunaan obat,
beri pujian bila klien menggunakan obat dengan benar, diskusikan akibat
berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter, anjurkan klien untuk konsultasi pada dokter
atau perawat jika terjadi halusinasi yang tidak diinginkan.
Dianosa
2: Isolasi sosial.
TUM: pasien dapat berinteraksi dengan orang lain.
TUK 1: pasien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan pasien menunjukan tanda-tanda
percaya terhadap perawat: wajah cerah, tersenyum, mau berkenalan, ada kontak
mata, bersedia menceritakan perasannya, bersedia mengungkapkan perasaannya.
Intervensi :
Bina hubungan saling percaya dengan
cara menggunakan prinsip komunikasi terapeutik, beri salam setiap berinteraksi,
perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan,
tanyakan dan panggil nama yang disukai pasien, buat kontrak yang jelas,
tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi, tanyakan
perasaan pasien dan masalah yang dihadapi klien, dengarkan dengan penuh
perhatian ekpresi perasaan pasien.
TUK 2: pasien mampu menyebutkan penyebab menarik
diri.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan klien menyebutkan minimal satu
penyebab menarik diri: Diri sendiri, lingkungan, orang lain.
Intervensi : Tanyakan pada klien tentang: orang yang
tinggal serumah/teman sekamar, orang yang paling dekat dengan pasien di rumah
atau di ruang perawatan, apa yang membuat klien dekat dengan orang tersebut,
orang yang tidak dekat dengan pasien di rumah atau di ruang perawatan, apa yang
membuat pasien tidak dekat dengan orang tersebut, upaya yang sudah dilakukan
agar dekat dengan orang lain, diskusikan dengan pasien penyebab menarik diri
atau tidak mau bergaul dengan orang lain, beri pujian terhadap kemampuan klien
mengungkapkan perasaannya.
TUK 3 : pasien
mampu menyebutkan keuntungan berhubungan
sosial dan kerugian menarik diri
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan pasien menyebutkan keuntungan
berhubungan sosial, misalnya: Banyak teman, tidak kesepian, bisa diskusi,
saling menolong, dan kerugian menarik diri, misalnya: sendiri, kesepian, dan
tidak bisa diskusi.
Intervensi :
Tanyakan pada klien tentang: manfaat
berhubungan sosial, kerugian menarik diri, diskusikan bersama klien tentang
manfaat berhubungan sosial dan kerugian menarik diri, beri pujian terhadap
kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.
TUK 4: pasien dapat melaksanakan hubungan sosial
secara bertahap.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 3x interaksi pasien dapat
melaksanakan hubungan sosial secara bertahap dengan: Perawat, perawat
lain, pasien lain dan kelompok.
Intervensi :
Observasi perilaku pasien saat
berhubungan sosial, beri motivasi dan
bantu pasien untuk berkenalan/berkomunikasi dengan: perawat lain, pasien lain
dan kelompok, libatkan pasien dalam terapi aktivitas kelompok sosialisasi,
diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan
klien bersosialisasi, beri motivasi pasien untuk melakukan kegiatan sesuai
dengan jadwal yang telah dibuat, beri pujian terhadap kemampuan pasien
memperluas pergaulannya melalui aktivitas yang dilaksanakan.
TUK 5: pasien mampu menjelaskan perasaanya setelah
berhubungan sosial.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit
diharapkan pasien dapat menjelaskan
perasaannya setelah berhubungan sosial dengan: orang lain dan kelompok.
Intervensi : Diskusikan dengan klien tentang perasaannya
setelah berhubungan sosial dengan: orang lain dan kelompok, beri pujian
terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.
TUK 6: Klien dapat dukungan keluarga dalam
memperluas hubungan sosial.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit
diharapkan pasien dapat menjelaskan
tentang: Pengertian menarik diri, penyebab dan akibat menarik diri, dan cara
merawat klien menarik diri.
Intervensi :
Diskusikan pentingnya peran serta
keluarga sebagai pendukung untuk mengatasi perilaku menarik diri, diskusikan
potensi keluarga untuk membantu pasien mengatasi perilaku menarik dirinya,
jelaskan pada keluarga tentang: pengertian menarik diri, tanda dan gejala
menarik diri, penyebab dan akibat menarik diri, cara merawat pasien menarik
diri, latih keluarga cara merawat klien menarik diri, tanyakan perasaan
keluarga setelah mencoba cara yang dilatih, beri motivasi keluarga agar
membantu klien untuk bersosialisasi, beri pujian kepada keluarga atas
katerlibatannya merawat klien di Rumah Sakit.
TUK 7: pasien dapat memanfaatkan obat dengan baik.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan klien menyebutkan: manfaat
minum obat, kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis, efek terapi dan efek
samping obat.
Intervensi :
Diskusikan dengan klien tentang manfaat
dan kerugian bila tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara, efek terapi dan
efek samping penggunaan obat, pantau klien saat penggunaan obat, beri pujian
bila klien menggunakan obat dengan benar, diskusikan akibat berhenti minum obat
tanpa konsultasi dengan dokter, anjurkan
klien untuk konsultasi pada dokter atau perawat jika terjadi halusinasi yang
tidak diinginkan.
Diagnosa
3: Harga diri rendah.
TUM : pasien memiliki konsep diri yang positif.
TUK 1: pasien dapat membina hubungan saling
percaya.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit
diharapkan klien menunjukan tanda-tanda percaya kepada perawat: ekspresi wajah
bersahabat, menunjukan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau
menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat,
bersedia mengungkapkan masalah yang dihadapi.
Intervensi :
Bina hubungan saling percaya dengan
cara menggunakan prinsip komunikasi terapeutik, sapa klien dengan ramah baik
verbal maupun non verbal, perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan
perawat berkenalan, tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai pasien,
buat kontrak yang jelas, tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali
interaksi, tunjukan sikap empati dan menerima apa adanya, berikan perhatian
pada pasien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
TUK 2: pasien dapat mengidentifikasi
aspek positif dan kemampuan yang dimiliki.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan pasien menyebutkan: aspek
positif dan kemampuan yang dimiliki, aspek positif keluarga, aspek positif
lingkungan klien.
Intervensi :
Diskusikan dengan pasien tentang: aspek
positif yang dimiliki, pasien, keluarga, lingkungan, kemampuan yang dimiliki
klien. Bersama pasien buat daftar tentang: aspek positif yang dimiliki, pasien,
keluarga, lingkungan, kemampuan yang dimiliki pasien, beri pujian yang
realistis, hindarkan memberi penilaian negatif.
TUK 3: pasien dapat menilai kemampuan yang
dimiliki untuk dilaksanakan.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan klien menyebutkan: kemampuan
yang dapat dilaksanakan.
Intervensi :
Diskusikan dengan pasien kemampuan yang
dapat dilaksanakan, diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan pelaksanaannya.
TUK 4: pasien dapat merencanakan kegiatan sesuai
dengan kemampuan yang dimiliki.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit
diharapkan pasien membuat rencana kegiatan harian.
Intervensi :
Rencanakan bersama pasien aktivitas
yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan klien: kegiatan mandiri,
kegiatan dengan bantuan, tingkatkan kegiatan sesuai kondisi pasien klien, beri
contoh cara pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan.
TUK 5: pasien dapat melakukan kegiatan sesuai
rencana yang dibuat.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit
diharapkan klien membuat rencana kegiatan harian.
Intervensi : Anjurkan pasien untuk melaksanakan kegiatan
yang telah direncanakan, pantau kegiatan yang dilaksanakan pasien, beri pujian
atas usaha yang dilakukan pasien, diskusikan kemungkinan pelaksanaan kegiatan
setelah pulang.
TUK 6: pasien dapat memanfaatkan sistem pendukung.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan klien memanfaatkan system
pendukung yang ada dalam keluarga.
Intervensi :
Beri pendidikan kesehatan pada keluarga
tentang cara merawat pasien dengan harga diri rendah, bantu keluarga memberikan
dukungan selama pasien dirawat, bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
Diagnosa
4: Defisit perawatan diri :berhias. berpakaian
TUM: pasien dapat mandiri dalam perawatan diri.
TUK 1: pasien dapat membina hubungan saling
percaya
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan pasien menunjukan tanda-tanda
percaya kepada perawat: wajah cerah, menunjukan rasa senang, ada kontak mata,
mau berkenalan, menerima kehadiran perawat, bersedia menceritakan perasaannya.
Intervensi :
Bina hubungan saling percaya dengan
cara menggunakan prinsip komunikasi terapeutik, sapa klien dengan ramah baik
verbal maupun non verbal, perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan
perawat berkenalan, tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai pasien,
buat kontrak yang jelas, tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali
interaksi, tunjukan sikap empati dan menerima apa adanya, penuhi kebutuhan
dasar klien.
TUK 2: pasien mengetahui pentingnya perawatan
diri.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan klien menyebutkan: penyebab
tidak merawat diri, manfaat menjaga perawatan diri, tanda-tanda bersih dan
rapi, gangguan yang dialami jika perawatan tidak diperhatikan.
Intervensi :
Diskusikan dengan pasien: penyebab pasien
tidak merawat diri, manfaat menjaga perawatan diri untuk keadaan fisik, mental
dan sosial, tanda-tanda perawatan diri yang baik, penyakit atau gangguan
kesehatan yang bisa dialami oleh pasien bila perawatan diri tidak adekuat.
TUK 3: pasien mengetahui cara-cara melakukan
perawatan diri.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan klien menyebutkan frekuensi
menjaga perawatan diri: frekuensi mandi, frekuensi gosok gigi, frekuensi
keramas, frekuensi ganti pakaian, frekuensi berhias dan frekuensi gunting kuku,
menjelaskan cara perawatan diri: cara mandi, cara gosok gigi, cara keramas,
cara ganti pakaian, cara berhias dan cara gunting kuku.
Intervensi :
Diskusikan frekuensi menjaga perawatan diri selama ini: mandi,
gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias dan gunting kuku, diskusikan cara
praktek perawatan diri yang baik dan benar: mandi, gosok gigi, keramas, ganti
pakaian, berhias dan gunting kuku, beri pujian untuk setiap respon pasien yang
positif.
TUK 4: pasien dapat melaksanakan perawatan diri
dengan bantuan perawat.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selasma 10 menit diharapkan pasien mempraktekkan perawatan
diri dengan dibantu oleh perawat: mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian,
berhias dan gunting kuku.
Intervensi : Bantu
pasien saat perawatan diri: mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias
dan gunting kuku, beri pujian setelah pasien selesai melaksanakan perawatan
diri.
TUK 5: pasien dapat melaksanakan perawatan diri
secara mandiri.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit
diharapkan klien mempraktekkan perawatan diri secara mandiri: mandi 2x sehari, gosok gigi sehabis makan,
keramas 2x seminggu, ganti pakaian 1x sehari, berhias sehabis mandi, gunting
kuku setelah mulai panjang.
Intervensi :
Pantau pasien dalam melaksanakan perawatan
diri: mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias dan gunting kuku, beri
pujian saat klien melaksanakan perawatan diri secara mandiri.
TUK 6: pasien
mendapatkan dukungan keluarga untuk meningkatkan perawatan diri.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan keluarga menjelaskan cara-cara
membantu pasien memenuhi kebutuhan perawatan dirinya, keluarga menyiapkan
sarana perawatan diri pasien klien: sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi,
shampoo, handuk, pakaian bersih, sandal, dan alat berhias, keluarga
mempraktekan perawatan pada klien.
Intervensi : Diskusikan dengan keluarga: penyebab klien
tidak melaksanakan perawatan diri, tindakan yang telah dilakukan klien selama
di Rumah Sakit dalam menjaga perawatan diri dan kemajuan yang telah dialami pasien,
dukungan yang bisa diberikan oleh keluarga untuk meningkatkan kemampuan klien
dalam perawatan pasien, diskusikan dengan keluarga tentang: sarana yang di
perlukan untuk menjaga perawatan diri pasien, anjurkan keluarga untuk
menyiapkan sarana tersebut, diskusikan dengan keluarga hal-hal yang perlu
dilakukan keluarga dalam perawatan diri: anjurkan keluarga untuk mempraktekkan
paerawatan diri (mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias dan gunting
kuku), ingatkan pasien waktu mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias
dan gunting kuku, bantu pasien klien jika mengalami hambatan dalam perawatan
diri, berikan pujian atas keberhasilan klien.
Diagnosa
5: Resiko perilaku kekerasan
TUM: pasien dapat mengontrol perilaku kekerasan.
TUK 1: pasien dapat membina hubungan saling
percaya.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan pasien menunjukan menunjukan
tanda-tanda percaya kepada perawat: ekspresi wajah bersahabat, menunjukan rasa
senang, ada kontak mata, bersedia menceritakan perasaan.
Intervensi : Bina hubungan saling percaya dengan cara
menggunakan prinsip komunikasi terapeutik, sapa klien dengan ramah baik verbal
maupun non verbal, perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat
berkenalan, tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai pasien, buat
kontrak yang jelas, tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali
interaksi, tunjukan sikap empati dan menerima apa adanya, berikan perhatian
pada pasien dan perhatikan kebutuhan dasar pasien, tanyakan perasaan pasien dan
masalah yang dihadapi pasien, dengarkan dengan penuh perhatian ekpresi perasaan
pasien.
TUK 2: pasien dapat mengidentifikasi penyebab
perilaku kekerasan yang dilakukannya
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan klien menceritakan penyebab
perilaku kekerasan yang dilakukannya: menceritakan penyebab perasaan jengkel
atau kesal baik diri sendiri maupun lingkungannya.
Intervensi : Bantu pasien mengungkapkan perasaan
marahnya: motivasi pasien untuk menceritakan penyebab rasa kesal atau
jengkelnya, dengarkan tanpa menyela atau memberi penilaian setiap ungkapan
perasaan klien.
TUK 3: pasien dapat menidentifikasi
tanda-tanda perilaku kekerasan.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan pasien menceritakan tanda-tanda
saat terjadi perilaku kekerasan, tanda fisik: mata merah, tangan mengepal,
ekspresi tegang. Tanda-tanda emosional: perasaan marah, jengkel, bicara kasar.
Tanda sosial: bermusuhan yang dialami saat terjadi perilaku kekerasan
Intervensi :
Bantu pasien mengungkapkan tanda-tanda
perilaku kekerasan yang dialaminya: motivasi klien menceritakan kondisi fisik
(tanda-tanda fisik) saat terjadi perilaku kekerasan, motivasi pasien menceritakan
kondisi emosinya (tanda-tanda emosional) saat terjadi perilaku kekerasan,
motivasi pasien menceritakan kondisi hubungan dengan orang lain (tanda-tanda
sosial) saat terjadi perilaku kekerasan.
TUK 4: pasien dapat mengidentifikasi jenis
perilaku kekerasan yang pernah dilakukannya.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan pasien menjelaskan: jenis-jenis
ekspresi kemarahan yang selama ini telah dilakukannya, perasaan saat melakukan
kekerasan, efektivitas cara cara yang dipakai dalam menyelesaikan masalah.
Intervensi :
Diskusikan dengan pasien perilaku
kekerasan yang dilakukannya selama ini: motivasi pasien menceritakan
jenis-jenis tindak kekerasan yang selama ini pernah dilakukannya, motivasi pasien
menceritakan perasaan klien setelah tindak kekerasan tersebut terjadi,
diskusikan apakah dengan tindak kekerasan yang dilakukannya masalah yang
dialaminya teratasi.
TUK 5: pasien dapat mengidentifikasi
akibat perilaku kekerasan.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan pasien menjelaskan akibat tindak kekerasan yang dilakukannya,
diri sendiri: luka, dijauhi teman,orang lain atau keluarga: luka, tersinggung,
ketakutan, lingkungan: barang atau benda rusak.
Intervensi :
Diskusikan dengan pasien akibat
negatif (kerugian) cara yang dilakukan
pada: diri sendiri, orang lain atau keluarga, lingkungan.
TUK 6: pasien dapat mengidentifikasi cara
konstruktif dalam mengungkapkan kemarahan.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan klien: menjelaskan cara-cara
sehat mengungkapkan marah.
Intervensi :
Diskusikan dengan pasien: apakah pasien
mau mempelajari cara baru mengunkapkan marah yang sehat, jelaskan berbagai
alternatif pilihan untuk mengungkapkan marah selain perilaku kekerasan yang
diketahui klien, jelaskan cara-cara
sehat mengungkapkan marah: cara fisik: nafas dalam, pukul bantal atau kasur,
olah raga, verbal: mengungkapkan bahwa dirinya sedang kesal kepada orang lain,
sosial: latihan asertif dengan orang lain, spiritual: sembahyang atau do’a,
zikir, meditasi, sesuai dengan keyakinan
agamanya masing-masing.
TUK 7: Pasien dapat mendemontrasikan cara
mengontrol perilaku kekerasan.
Kriteria
Evaluasi : Setelah 1x interaksi selama
10 menit diharapkan klien memperagakan cara mengontrol perilaku kekerasan:
fisik: tarik nafas dalam, memukul bantal atau kasur, verbal: mengungkapkan
perasaan kesal atau jengkel pada orang lain
tanpa menyakiti, spiritual: zikir, do’a, meditasi sesuai agamanya.
Intervensi :
Diskusikan cara yang mungkin dipilih
dan anjurkan pasien memilih cara yang mungkin untuk mengungkapkan kemarahan,
latih pasien memperagakan cara yang dipilih: peragakan cara melaksanakan yang
dipilih, jelaskan manfaat cara tersebut, anjurkan klien menirukan peragaan yang
sudah dilakukan, beri penguatan pada klien, perbaiki cara yang masih belum
sempurna, anjurkan pasien menggunakan cara yang sudah dilatih saat marah atau
jengkel.
TUK 8: Pasien
mendapat dukungan keluarga untuk mengontrol perilaku kekerasan.
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit
diharapkan keluarga: menjelaskan cara merawat klien dengan perilaku kekerasan,
mengungkapkan rasa puas dalam merawat klien.
Intervensi :
Diskusikan pentingnya peran serta
keluarga sebagai pendukung pasien untuk mengatasi perilaku kekerasan,
diskusikan potensi keluarga untuk membantu klien mengatasi perilaku kekerasan,
jelaskan pengertian, penyebab, akibat dan cara merawat klien perilaku kekerasan
yang dapat dilaksanakan oleh keluarga, peragakan cara merawat pasien (menangani
perilaku kekerasan), beri kesempatan keluarga untuk memperagakan ulang, beri
pujian pada keluarga setelah peragaan, tanyakan perasaan keluarga setelah
mencoba cara yang dilatihkan.
TUK 9: klien menggunakan obat sesuai program yang
telah ditetapkan
Kriteria Evaluasi :
Setelah 1x interaksi selama 10 menit diharapkan pasien menjelaskan: manfaat
minum obat, kerugian tidak minum obat, nama, bentuk dan warna, dosis yang
diberikan padanya, waktu pemakian, cara pemakaian dan efek yang dirasakan.
Intervensi : Jelaskan manfaat menggunakan obat secara
teratur dan kerugian jika tidak menggunakan obat, jelaskan kepada pasien: jenis
obat (nama, warna dan bentuk obat), dosis yang tepat untuk pasien, waktu
pemakaian, cara pemakaian, efek yang akan dirasakan pasien, anjurkan pasien:
minta dan menggunakan obat tepat waktu, lapor ke perawat atau dokter jika
mengalami efek yang tidak biasa, beri pujian terhadap kedisiplinan pasien
menggunakan obat.
D.
Implementasi dan Evaluasi
Implementasi
Hari/ tanggal/ pukul : Senin/ 24 Juni 2013/ 08.50 WIB
Pertemuan : Ke 1, SP 1 Halusinasi.
Evaluasi :
g) Subyektif: pasien
mengatakan namanya Nuraini, pasien mengatakan usia 34 tahun, pasien mengatakan betawi
asli, pasien mengatakan sering mendengar suara-suara yang tidak ada wujudnya,
pasien mengatakan suara-suara tersebut datangnya subuh sore dan malam, pasien
mengatakan suara tersebut adalah suara wanita dan laki-laki yang menyuruhnya
duduk dan diam, Pasien mengatakan takut
bila suara itu muncul. Pasien mengatakan lama suara itu muncul 3-5 menit.
Pasien mengatakan
ketika suara itu muncul, bersembunyi dikamar. Pasien mengatakan suara itu
sering terdengar ketika sedang tidur (terbagun), bangun tidur dan ketika dia
sedang sendiri,
Obyektif: pasien menyebutkan nama, usia dan
asal daerah, pasien sering menoleh ke kanan atau ke kiri saat interaksi, pasien
menyebutkan suara yang sering mengganggu yaitu isi, waktu, frekuensi, situasi
pencetus, dan perasaan pasien saat mendengar suara-suara takut dan bersembunyi
dikamar.
Analisa: Bina hubungan saling percaya
terjalin, pasien mampu mengenal halusinasinya, isi, frekuensi, waktu, pasien
mampu mengontrol halusinasi dengan cara menghardik cara pertama yaitu tutup
telinga dan bilng pergi-pergi kamu suara palsu. Pasien mampu menyusun jadwal
kegiatan harian.
Planing: PP: Lanjutkan SP 2 halusinasi
pendengaran : bercakap-cakp dengn teman atau perawat.
Evaluasi SP 1.
Ajarkan pasien mengontrol halusinasi bercakap-cakap
dengan teman atau perawat. Dan masukan kejadwal kegiatan harian pasien.
PK: Latih pasien
cara menghardik untuk mengontrol halusinasi.
Latih pasien cara
menghardik secara teratur.
Implementasi
Hari/ tanggal/ waktu : Senin/ 24 Juni 2013/ 10.30 WIB
Pertemuan : Ke 2 SP 2 Halusinasi
Evaluasi :
Subyektif: pasien mengatakan masih ingat cara
topik obrolan sebelumnya tentang menghardik, cara menghardik dengan tutup
telinga dan mengusir suara-suara tersebut: “Pergi...Pergi...Saya tidak mau
mendengar suara kamu”, Pasien mengatakan
cara mengontrol suara-suara ada 4 : menghardik, ngobrol dengan teman atau
perawat, melakukan kegiatan seperti saat dirumah. Pasien mengatakan
perasaannya biasa saja setelah diajarkan cara bercakap-cakap.
Obyektif: pasien terlihat tenang saat
interaksi, pasien terlihat memperagakan cara menghardik dengan tutup telinga,
mengobrol dengan perawat. Pasien kooperatif ketika diajarkan cra mengontrol
halusinasi dengan bercakap-cakap.
Analisa: Pasien mampu memperagakan cara
menghardik dengan cara ngobrol-ngobrol dengan teman sesuai jadwal.
Planing: PP: lanjutkan SP 3 halusinasi pendengaran : melakukan aktifitas
yang biasa dilakukan saat dirumah.
Evaluasi SP 1, SP 2:
Ajarkan pasien mengontrol halusinasi
dengan cara melakukan kegiatan seperti yang dilakukan saat dirumh: nyapu,
ngepel. Dan masukan kejadwal kegiatan harian pasien.
PK: latih pasien ngontrol halusiansi
dengan cara menghardik dengan cara menutup telinga, latih pasien bercakap-cakap
sesuai jadwal., latih pasien untuk memasukkan ke dalam jadwal setelah melakukan
kegiatan.
Implementasi
Hari/tanggal/pukul :Senin, 24 Juni 2012/ 13.10 WIB
Pertemuan : Ke 3, SP 3 Halusinasi
Evaluasi :
Subyektif : Pasien mengatakan masih ingat topik yang diajarkan
yaitu cara menghardik dengan tutup telinga dan mengusir suara-suara tersebut:
“Pergi...Pergi...Saya tidak mau mendengar suara kamu”, cara kedua yaitu
bercakap-cakap/ ngobrol dengan teman atau perawat, pasien mengatakan aktivitas
yang biasa dilakukan adalah membersihkan meja makan dan meja menyapu ruangan, pasien
mengatakan kegiatan tersebut dilakukan kadang-kadang, pasien mengatakan
aktivitas tersebut (membersihkan meja makan dan menyapu ruangan) yang akan
dilatih, klien mengatakan senang jadwal kegiatan bertambah
Obyektif: Pasien mengulang SP 1: menghardik
dengan cara tutup telinga, pasien memperagakan SP 2: berbicara/ bercakap-cakap
dengan teman dan perawat saat halusinasi muncul, pasien kooperatif saat
berinteraksi dengan perawat, pasien terlihat mengelap meja sehabis makan siang
Analisa: Pasien mampu memperagakan SP 1 (cara
menghardik dengan tutup telinga), klien mampu memperagakan SP 2: berbicara/
bercakap-cakap dengan teman atau perawat. Pasien mampu melakukan kegiatan
seperti: mengelap meja sehabis makan.
Planing: lanjutkan SP 4 halusinasi
pendengaran: pendidikan tentang obat
PP: Evaluasi
SP 1 dan 2, lanjutkan SP 3: latih kegiatan agar halusinasinya tidak muncul.
PK: Anjurkan klien untuk melakukan
atau memperagakan SP 1 dan 2, anjurkan klien untuk memasukkan ke dalam jadwal
setelah melakukan kegiatan.
Implementasi
Hari/ tanggal/ pukul : selasa/ 25 Juni 2013/ 09.00 WIB
Pertemuan : Ke 4, SP 4 Halusinasi
Evaluasi :
Subyektif: Pasien mengatakan masih ingat
kegiatan yang lalu( menghardik, cara bercakap-cakap dan memilih beraktivtas),
pasien mengatakan minum obat sangat penting untuk kesembuhannya, pasien
mengatakan susah sembuhnya jika tidak minum obat, pasien mengatakan mendapatkan
obat dari perawat, pasien mengatakan pasien mengatakan sudah minum obat THP 1x2
mg, seroquel 2x 300 mg. pasien mengatakan kegunaan obat THP untuk menghilngkan
otot-otot yang kaku, seroquel untuk menghilangkan suara-suara. Kerugian kedua
obat yaitu: mual, muntah, bagian tubuh bergerak sendiri, pasien mengatakan sudah bisa minum obat.
Obyektif: pasien memperagakan cara menghardik, bercakap-cakap, dan menyebutkan
aktivitas yang telah dipilih, pasien menyebutkan pentingnya minum obat, pasien
menyebutkan akibat jika putus obat,
Analisa: pasien mampu menyebutkan
pentingnya minum obat, akibat putus obat, prinsip 5 benar obat.
Planing:
PP: lanjutkan SP 4 gangguan halusinasi pendengaran.
Evaluasi SP 1, SP 2, SP 3
PK: Latih pasien meminta obat secara
mandiri pada waktu yang seharusnya, lakukan cara menghardik, bercakap-cakap,
aktivitas yang telah dipilih, dan mengingat prinsip 5 benar obat, anjurkan pasien
untuk selalu memasukkan ke dalam jadwal sesaat setelah berlatih.
Implementasi
Hari/ tanggal/ pukul : Rabu/ 26 Juni 2013/ 11.00 WIB
Pertemuan : Ke 4, SP 4
Halusinasi
Evaluasi :
Subyektif: Pasien mengatakan masih ingat
kegiatan yang lalu( menghardik, cara bercakap-cakap dan memilih beraktivtas),
pasien mengatakan minum obat sangat penting untuk kesembuhannya, pasien
mengatakan susah sembuhnya jika tidak minum obat, pasien mengatakan mendapatkan
obat dari perawat, pasien mengatakan prinsip 5 benar: benar obat, benar dosis,
benar cara, benar orang dan benar waktu, klien mengatakan sudah biasa minum
obat, pasien mengatakan akan selalu minum obat untuk kesembuhannya, pasien
mengatakan sudah bisa minum obat.
Obyektif: pasien memperagakan cara menghardik, bercakap-cakap, dan menyebutkan
aktivitas yang telah dipilih, klien menyebutkan pentingnya minum obat, pasien
menyebutkan akibat jika putus obat, klien menyebutkan prinsip 5 benar obat.
Analisa: pasien mampu menyebutkan
pentingnya minum obat, akibat putus obat, prinsip 5 benar obat.
Planing:
PP: SP 4 gangguan halusinasi
pendengaran tercapai, observasi jadwal.
Evaluasi SP 1, SP 2, SP 3
PK: Lakukan untuk meminta obat secara
mandiri pada waktu yang seharusnya, lakukan cara menghardik, bercakap-cakap,
aktivitas yang telah dipilih, dan mengingat prinsip 5 benar obat, lakukan untuk
selalu memasukkan ke dalam jadwal sesaat setelah berlatih.
|
|
PEMBAHASAN
Pada Bab ini penulis akan membandingkan antara
teori yang ditulis dengan kenyataan yang penulis temukan selama pengamatan
kasus, yang meliputi kesamaan dan kesenjangan antara faktor pendukung dan
penghambat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien Ny. N dengan Gangguan
Sensori Persepsi: Halusinasi Pendengaran
di Ruang Berry Rumah Sakit Duren Sawit Jakarta yang dilakukan sejak tanggal 24
sampai dengan 26 Juni 2013.
A.
Pengkajian
|
72
|
Faktor presipitasi yaitu stimulus
dipersepsikan oleh individu sebagai ancaman.
Manifestasi
klinis pada teori tentang gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran
meliputi: klien seolah-olah mendengar suara, paling sering suara orang. Suara
dapat berkisar dari suara yang sederhana sampai suara orang berbicara mengenai
klien, klien mendengar orang-orang sedang membicarakan apa yang sedang
dipikirkan oleh klien dan memerintah untuk melakukan sesuatu dan kadang - kadang
melakukan yang berbahaya, sedangkan manifestasi klinis
yang ditemukan pada kasus Ny. N
secara umum memiliki kesesuaian antara terori dan kasus yang ditemukan yaitu
ada stimulus yang tidak terlihat yaitu menyuruh klien diam dan duduk, adapun mekanisme koping
dan sumber koping pada teori tidak mengalami kesenjangan atau sesuai dengan
kasus yaitu jika klien mendapatkan masalah klien lebih memilih untuk
menyendiri.
Untuk penatalaksanaan medis yang
terdapat pada teori tidak mengalami kesenjangan atau sesuai dengan kasus yaitu
Trihexipendil (THP) diberikan 2 mg per hari, dan seroquel 300 per hari adapun
prinsip keperawatan yang terdapat pada teori sama seperti penatalaksanaan medis
yaitu tidak mengalami kesenjangan atau sesuai dengan kasus: kontak sering,
tidak membenarkan atau menyalahkan halusinasi klien.
Pohon masalah pada teori dan kasus
terdapat adanya kesenjangan yang mana pada teori terdapat empat masalah
keperawatan yaitu: gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran, resiko
perilaku kekerasan, isolasi sosial dan gangguan konsep diri: harga diri rendah.
Sedangkan pada Ny. N ditemukan adanya lima diagnosa keperawatan yaitu: gangguan
sensori persepsi: halusinasi pendengaran, resiko perilaku kekerasan, isolasi
sosial, gangguan konsep diri: harga diri rendah, defisit perawatan diri. Dari lima
masalah di kasus terdapat empat masalah yang sama dengan teori, karena pada
kasus pohon masalah dikembangkan berdasarkan data-data yang dialami klien.
Faktor pendukung yang didapatkan penulis
selama melakukan pengkajian adalah klien cukup kooperatif dan hubungan saling
percaya antara perawat dengan klien
terbina dengan baik.
Faktor penghambat :
penulis tidak dapat melakukan pengkajian dengan maksimal karena keluarga klien
atau suami
klien pada saat pengkajian belum ada yang menjenguk. Sedangkan solusi yang
dilakukan penulis saat ini adalah validasi kepada perawat ruangan dan melihat
buku status klien.
B.
Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan tinjauan teori pada Bab II
diagnosa keperawatan yang terdapat pada klien dengan gangguan sensori persepsi:
halusinasi pendengaran ditemukan empat masalah keperawatan yaitu: gangguan
sensori persepsi: halusinasi pendengaran, resiko perilaku kekerasan, isolasi
sosial dan gangguan konsep diri: harga diri rendah. Sedangkan pada Ny.N ditemukan ada lima diagnosa keperawatan
yaitu: gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran, resiko perilaku
kekerasan, isolasi sosial, gangguan konsep diri: harga diri rendah, dan defisit
perawatan diri.
Terdapat satu diagnosa yang mengalami
kesenjangan yaitu: defisit perawatan diri: berhias, berpakaian. Munculnya
diagnosa ini karena ditemukan data pada Ny.
N dimana klien mengatakan mandi 2x per hari, (kusut), klien mengatakan kakinya
kotor malas disikat, dan ditunjang pula oleh data objektifnya: badan klien
tercium bau tidak sedap, berpakaian tidak rapi (kusut), kuku terlihat kotor.
Klien mengatakan ketika ada masalah lebih baik memendamnya sendiri (menyendiri)
dengan alasan malu menceritakan masalahnya kepada orang lain.
Dalam menegakkan diagnosa keperawatan
penulis melakukan pendokumentasian dengan cara menentukan masalah keperawatan
yang menjadi cause, core problem dan effect dengan menggunakan format yang
telah distandarkan. Hanya saja penulis terhambat karena keterbatasan literatur
berhubungan dengan penegakan diagnosa keperawatan jiwa.
C.
Perencanaan
Dalam perencanaan ditetapkan prioritas
masalah, tujuan, kriteria hasil dan evaluasi, tujuan yang ditetapkan mengacu
pada SMART (spesifik, measurable, achievable, realiable dan time). Pada teori
tidak ada kriteria waktu sedangkan pada kasus penulis menerapkan untuk kriteria
waktu sesuai dengan kondisi klien.
Faktor pendukung dalam merencanakan
tindakan keperawatan yaitu tersedianya
buku/ literatur panduan perencanaan keperawatan, klien kooperatif
sehingga dapat diajak kerja sama, tidak ditemukan adanya faktor penghambat
dalam menyusun perencanaan keperawatan.
D.
Implementasi
Berdasarkan
tinjauan teori pada Bab. II, pelaksanaan tindakan keperawatan jiwa dilakukan
berdasarkan Strategi Pelaksanaan (SP) yang sesuai dengan masing-masing masalah
utama. Pada masalah gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran, terdapat
2 jenis SP, yaitu SP Klien dan SP Keluarga.
SP
klien terbagi menjadi SP 1 (membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi
halusinasi (jenis, isi, waktu, frekuensi, situasi, respon), mengajarkan cara
menghardik, memasukan cara menghardik ke dalam jadwal; SP 2 (mengevaluasi SP 1,
mengajarkan cara bercakap-cakap ketika halusinasi muncul, memasukan ke dalam
jadwal); SP 3 (mengevaluasi SP 1 dan 2, menganjurkan untuk melakukan kegiatan
untuk menghindari halusinasi muncul, memasukan ke dalam jadwal); SP 4
(mengevaluasi SP 1, 2, dan 3, mengajarkan tentang minum obat, memasukan ke
dalam jadwal).
SP
keluarga terbagi menjadi SP 1 (membina hubungan saling percaya, mendiskusikan
masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien, menjelaskan pengertian,
tanda dan gejala helusinasi, jenis halusinasi yang dialami klien beserta proses
terjadinya, menjelaskan cara merawat pasien halusinasi); SP 2 (melatih keluarga
mempraktekan cara merawat pasien dengan halusinasi, melatih keluarga melakukan
cara merawat langsung kepada pasien halusinasi); SP 3 (membantu keluarga
membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planing),
menjelaskan follow up pasien setelah pulang).
Pada dasarnya prinsip-prinsip dalam
pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah disusun dengan menyesuaikan
kondisi, situasi kebutuhan klien dan fasilitas yang ada, untuk mengatasi
diagnosa yang utama yaitu gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran,
penulis tidak mengalami kesulitan dalam melakukan tindakan keperawatan karena
perilaku klien yang kooperatif.
Untuk mengatasi diagnosa keperawatan
ini penulis terlebih dahulu membina hubungan saling percaya dengan cara
memperkenalkan diri, menjelaskan maksud dan tujuan kehadiran penulis,
menyepakati kontrak waktu dan menepati janji dan mulai berkomunikasi pada tanggal
24 Juni 2013, implementasi diagnosa satu yaitu menyebutkan isi, waktu,
frekuensi, situasi pencetus,dan perasaan saat timbulnya halusinasi, dalam
melakukan tindakan tersebut penulis tidak mengalami hambatan karena klien dapat
menyebutkan isi, waktu, frekuensi, situasi pencetus, dan perasaan saat
timbulnya halusinasi, sedangkan tindakan selanjutnya yaitu mengajarkan cara
menghardik, dalam tindakan ini pun penulis tidak menemukan hambatan dan secara
keseluruhan dalam melakukan tindakan yang dimulai dari SP 1 sampai SP 4 penulis
tidak menemukan hambatan, karena klien kooperatif dan mampu mengingat dan
memperagakan: cara menghardik dengan tutup telinga, berbicara/ bercakap-cakap
dengan teman atau perawat, aktivitas yang telah dipilih dan menyebutkan pentingnya
minum obat, untuk SP keluarga penulis menemukan hambatan yaitu penulis tidak
dapat bertemu dengan keluarga klien, karena kelurga klien tidak menjeguk klien.
Sedangkan untuk diagnosa dua sampai lima penulis hanya sampai perencanaan
(tidak melakukan implementasi dan evaluasi) karena keterbatasan waktu yang
ditentukan yaitu hanya 3 hari.
E.
Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari
keperawatan yang bertujuan menilai hasil dari keseluruhan tindakan keperawatan
yang dilakukan.
Evaluasi keperawatan yang diharapkan
pada pasien dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran adalah:
tidak terjadi perilaku kekerasan, klien dapat membina hubungan saling percaya,
klien dapat mengenal halusinasinya, klien dapat mengontrol halusinasinya, klien
mendapatkan dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya, klien dapat
menggunakan obat dengan baik dan benar.
Berdasarkan hasil evaluasi yang
dilakukan pada Ny. N diagnosa utama yaitu: gangguan sensori persepsi:
halusinasi pendengaran yang dilakukan selama tiga hari klien mampu menyebutkan
tahap-tahap dimulai dari SP 1 yaitu klien mampu mengenal halusinasinya dan
klien mampu memperagakan cara menghardik, SP 2 klien mampu memperagakan
berbicara/bercakap-cakap dengan teman atau perawat, SP 3 klien mampu memilih kegiatan
atau aktivitas yang akan dilakukan, klien mampu memperagakan aktivitas yang
telah dipilih dan SP 4 yaitu: klien mampu menyebutkan pentingnya minum obat,
akibat putus obat, prinsip 5 benar obat, secara keseluruhan SP untuk pasien
yang ada di diagnosa utama tercapai dan SP untuk keluarga tidak dapat dilakukan
karena yaitu penulis tidak dapat bertemu dengan keluarga klien, karena klien
tidak mendatangi klien.
PENUTUP
Setelah penulis mengutarakan permasalahan yang
didapat pada pasien dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran,
penulis telah melakukan asuhan keperawatan pada pasien Ny. N di Ruang Berry
Rumah Sakit Duren Sawit Jakarta, maka penulis membuat kesimpulan dan saran
sebagai berikut:
A.
Kesimpulan
Pemberian asuhan keperawatan pada pasien
dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran dilakukan secara
komprehensif dengan menggunakan proses keperawatan.
Pada tahap pengkajian yang menjadi
etiologi pada pasien Ny. N adalah gangguan sesori persepsi: halusinasi
pendengaran, faktor predisposisi adalah psikologis dan genetik, untuk faktor
presipitasi adalah stimulus dipersepsikan oleh individu sebagai ancaman, pemicu
gejala dan manifestasi klinis yaitu ada stimulus yang tidak terlihat yang
selalu menyuruh pasien duduk dan diam. Mekanisme koping dan sumber koping yang
digunakan oleh klien adalah memecahkan masalah dengan memendamnya sendiri
(menyendiri).
Tahap perumusan diagnosa, dalam teori
ditemukan empat diagnosa keperawatan yaitu gangguan sensori persepsi:
halusinasi pendengaran, resiko perilaku kekerasan, isolasi sosial dan gangguan
konsep diri: harga diri rendah. Sedangkan pada Ny. N ditemukan adanya enam diagnosa keperawatan
yaitu: gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran, isolasi sosial,
gangguan konsep diri: harga diri rendah, resiko perilaku kekerasan. dan
terdapat diagnosa keperawatan yang tidak sesuai dengan teori akan tetapi
penulis menemukan data yang menunjang, diagnosa tersebut yaitu: defisit
perawatan diri: berhias, berpakaian
Perencanaan yang dilakukan pada Ny. N
dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran ditujukan untuk
membina hubungan saling percaya, mengenal dan mengontrol halusinasinya, dan
dapat memanfaatkan obat dengan benar.
Di tahap implementasi penulis
melakukan tindakan keperawatan berdasarkan tindakan keperawatan yang telah
disusun, adapun tindakan yang telah dilakukan adalah SP 1-SP 4 klien yaitu:
mengenal dan mengontrol halusinasi, berbicara/bercakap-cakap dengan orang lain
saat halusinasi muncul, melakukan aktivitas dan menganjurkan klien untuk minum
obat secara teratur.
Berdasarkan hasil evaluasi yang
dilakukan pada Ny. N diagnosa utama yaitu: gangguan sensori persepsi:
halusinasi pendengaran yang dilakukan selama tiga hari secara keseluruhan SP
untuk klien yang ada di diagnosa utama tercapai dan SP untuk keluarga tidak
dapat dilakukan karena yaitu penulis tidak dapat bertemu dengan keluarga klien.
B.
Saran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar